Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Emas Pohuwato: Pendidikan Terabaikan, Ratusan Siswa Belajar di Bangunan Memprihatinkan

5/20/2026 | Mei 20, 2026 WIB | 11K Last Updated 2026-05-20T08:22:40Z

 ‎


‎POHUWATO – Di tengah besarnya investasi pertambangan emas yang terus berkembang di Kabupaten Pohuwato, dunia pendidikan justru memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Di wilayah yang dikenal sebagai pusat eksploitasi sumber daya alam bernilai tinggi, ratusan siswa di Marisa Utara, Kecamatan Marisa, masih harus belajar dalam keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.

‎Sekolah di bawah naungan Yayasan Ashabul Kahfi menjadi gambaran nyata ketimpangan pembangunan di daerah lingkar tambang. Gedung sekolah yang digunakan untuk proses belajar mengajar masih berdinding tripleks, sebagian dalam kondisi miring, serta memiliki jendela berlubang tanpa kaca yang dinilai jauh dari standar kelayakan pendidikan.

‎Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai keberpihakan pemerintah daerah dan perusahaan tambang terhadap pembangunan sumber daya manusia di Pohuwato.

‎*Jumlah Siswa Terus Meningkat*

‎Di tengah keterbatasan fasilitas, Yayasan Ashabul Kahfi justru terus mendapatkan kepercayaan masyarakat. Memasuki Tahun Ajaran 2026/2027, jumlah siswa yang menempuh pendidikan di yayasan tersebut mencapai kurang lebih 500 orang.

‎Unit Taman Kanak-Kanak (TK) di yayasan ini bahkan disebut sebagai salah satu dengan jumlah siswa terbanyak di Kabupaten Pohuwato. Sementara pada jenjang Sekolah Dasar (SD), jumlah siswa baru tahun ini meningkat hingga mencapai 112 anak yang dibagi ke dalam empat ruang belajar.

‎Tidak hanya berkembang dari sisi jumlah peserta didik, sekolah tersebut juga menunjukkan capaian pendidikan yang cukup membanggakan. Salah satu siswa kelas 6 SD diketahui telah berhasil menyelesaikan hafalan hingga enam juz Al-Qur’an.

‎*Pemerintah Dinilai Belum Hadir*

‎Meski memiliki perkembangan signifikan dan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, pihak yayasan menilai belum ada perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap kebutuhan sarana pendidikan di sekolah tersebut.

‎Hingga saat ini, belum terdapat bantuan anggaran yang secara khusus menyentuh rehabilitasi maupun pembangunan fasilitas sekolah. Kondisi itu membuat pihak yayasan harus bertahan dengan segala keterbatasan di tengah meningkatnya jumlah peserta didik setiap tahun.

‎*Permohonan ke Perusahaan Belum Membuahkan Hasil*

‎Selain pemerintah daerah, kritik juga diarahkan kepada perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Pohuwato, termasuk Pani Gold Project. Salah satu pendiri Yayasan Ashabul Kahfi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pihak yayasan telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan pembangunan kepada manajemen perusahaan dalam dua tahun terakhir.

‎Namun hingga saat ini, permohonan tersebut belum membuahkan hasil konkret.

‎Padahal, menurut pihak yayasan, kebutuhan pembangunan empat ruang kelas baru sangat mendesak untuk menampung lonjakan jumlah siswa pada Tahun Ajaran 2026/2027.

‎*Masyarakat Bangun Sekolah Secara Mandiri*

‎Di tengah minimnya dukungan dari pemerintah dan perusahaan, pihak sekolah bersama masyarakat akhirnya memilih membangun fasilitas pendidikan secara mandiri.

‎Lahan sekolah seluas 5.677 meter persegi diketahui telah dibeli secara swadaya oleh pihak yayasan. Saat ini, proses pembangunan ruang kelas baru juga dilakukan bersama orang tua siswa dan masyarakat sekitar meskipun masih mengalami keterbatasan biaya.

‎“Tahun ajaran 2026 ini, sekolah bersama orang tua siswa dan masyarakat membangun secara mandiri tanpa ada bantuan Pemerintah Daerah maupun pihak perusahaan manapun untuk sarana dan prasarana pembangunan kelas yang saat ini masih kekurangan biaya,” ujar salah satu pendiri yayasan.

‎*Potret Ketimpangan Pembangunan*

‎Kondisi yang terjadi di Marisa Utara dinilai menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan di daerah kaya sumber daya alam. Di tengah hasil tambang emas yang terus dieksploitasi, pembangunan pendidikan sebagai investasi jangka panjang justru dinilai belum menjadi prioritas utama.

‎Pengamat menilai bahwa pembangunan daerah seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan investasi industri ekstraktif, tetapi juga harus diiringi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang layak.

‎Sebab pada akhirnya, kekayaan alam memiliki batas, sementara pendidikan merupakan fondasi utama bagi masa depan generasi dan kemajuan daerah dalam jangka panjang. *Red*

×
Berita Terbaru Update