Sebuah Refleksi dari "Di Antara Dapur yang Mengepul Dan Aturan yang Membelenggu"
Opini
Oleh: [ Zepriyanto Muda, C. ILJ ]
Noviral - Nojustice.com//[Gorontalo/Boliyohuto], [ 27 April 2026] — Pernahkah Anda berdiri di tepi sebuah tebing, menatap jurang yang dalam namun terhalang oleh kabut yang tebal? Itulah perasaan yang sering dialami oleh para pejuang nafkah di lapangan: mereka tahu tujuan mereka, tetapi jalannya tidak terlihat.
Hari ini, sebuah gambar yang menggugah hati menjadi perbincangan. Seseorang, dengan nama tertera di sudut "Zepriyanto Muda, C.ILJ", tertangkap kamera dalam posisi kontemplatif. Ia berdiri membelakangi kita, menatap kejauhan. Di punggung t-shirt putihnya, terdapat logo stasiun televisi nasional, seolah mengisyaratkan dedikasi yang tak kasat mata di balik lensa.
Namun, di luar konteks pekerjaannya, gambar ini telah menjadi simbol yang sangat kuat bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan tembok tak kasat mata: aturan birokrasi yang membelenggu tanpa solusi.
Tuntutan vs. Keterbatasan, "Di Antara Dapur yang Mengepul dan Aturan yang Membelenggu", dengan tepat menyoroti dilema ini. Bagi seorang profesional seperti Zepriyanto, atau bahkan bagi ribuan penambang lokal dan petani sawah di luar sana, keharusan untuk tertib dan patuh adalah hal yang mutlak. Namun, ketika aturan itu datang tanpa alternatif, tanpa pembinaan, dan tanpa solusi, maka kepatuhan itu terasa seperti cekikan.
Di lapangan, aturan-aturan sering kali lahir di ruang-ruang ber-AC, rapi di atas kertas tetapi tak berdaya menghadapi realitas tanah yang basah atau sungai yang mendangkal.
Aturan melarang, tetapi aturan sering kali lupa untuk memberdayakan. Aturan memangkas kesempatan kerja, tetapi aturan tak menyediakan lapangan kerja baru.
Kabut yang Sama, Mimpi yang Berbeda. Kabut tebal yang menyelimuti lembah itu adalah representasi sempurna dari ketidakpastian birokrasi. Ia menyembunyikan masa depan.
Di balik kabut itu mungkin ada kemudahan, atau mungkin ada larangan baru. Ketika seorang kepala keluarga harus memilih: "Apakah saya harus patuh pada aturan birokrasi yang kaku yang akan mematikan sumber nafkah saya, atau apakah saya harus memastikan ada nasi di meja makan anak-anak saya?", itu bukan lagi soal legalitas vs. ilegalitas. Itu adalah soal cinta vs. keputusasaan.
Aksi cepat polisi dalam menindak kriminalitas adalah hal yang patut dipuji, seperti dalam kasus penangkapan pencuri sapi di Paguyaman. Itu adalah kepastian hukum. Namun, dalam kasus administrasi dan perizinan, kepastian yang diharapkan sering kali adalah kepastian akan adanya 'bimbingan', bukan hanya 'larangan'.
Menuntut Solusi, Bukan Sekadar Kepatuhan
Kita semua menginginkan ketertiban. Namun, ketertiban yang ideal adalah ketertiban yang merangkul, bukan yang mengeliminasi.
Sebuah sistem perizinan tanpa solusi hanyalah beban tambahan bagi pundak-pundak lelah. Kita butuh pemerintah yang melihat wajah di balik permohonan izin, bukan sekadar tanda tangan.
Kita butuh birokrat yang turun ke lapangan dan memahami bahwa aturan yang tak berpihak adalah bentuk pengorbanan yang sunyi bagi rakyat kecil.
Zepriyanto Muda, C.ILJ mungkin sedang menatap masa depan dengan penuh harap. Kabut itu tidak akan selamanya tebal. Sinar matahari akan memecahkannya. Namun, untuk mencapainya, kita butuh kebijakan yang berhati, yang melihat bahwa di balik setiap lembar dokumen perizinan, ada nyawa, ada keluarga, dan ada harapan yang tak boleh mati.
Hanya dengan begitu, kita bisa melangkah di antara dapur yang mengepul dan aturan yang melindungi.
