![]() |
| Juru Bicara Persatuan Pemuda Nusa Tenggara Barat ( Muksin ) |
Noviralnojustice.Com_Mataram, 14 Mei 2026 – Persaingan mendapatkan pekerjaan yang layak di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin terasa berat, terutama bagi lulusan baru perguruan tinggi dan generasi muda. Kondisi ini disampaikan tegas oleh Juru Bicara Persatuan Pemuda NTB, Muksin, menyikapi kenyataan di lapangan yang berbanding terbalik dengan angka statistik resmi.
Menurut Muksin, meski data BPS menyebutkan tingkat pengangguran terlihat rendah, faktanya lebih dari 70% tenaga kerja hanya terserap di sektor informal, berpenghasilan pas-pasan, tanpa jaminan sosial dan masa depan yang jelas. Jumlah lapangan kerja formal sangat terbatas karena pertumbuhan industri dan investasi di daerah ini masih sangat lambat.
“Nasib pencari kerja di NTB itu bisa dibilang berat. Ribuan sarjana dan pemuda terampil lulus setiap tahun, tapi lowongan kerja resmi hanya segelintir. Yang tersedia banyak di sektor pariwisata dan jasa, sedangkan industri penyerap tenaga kerja besar nyaris belum ada di sini,” ungkap Muksin.
Ia menambahkan keluhan utama: ketersediaan lapangan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Banyak pemuda terpaksa menganggur atau bekerja di luar keahliannya, bahkan merantau ke luar pulau demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
Negara Harus Hadir Ciptakan Solusi
Wawan menegaskan bahwa menyediakan lapangan kerja bukan tanggung jawab individu semata, melainkan kewajiban utama negara dan pemerintah daerah. Ia meminta Pemprov NTB membuka pintu investasi selebar-lebarnya, mendorong pembangunan industri pengolahan, serta memastikan perusahaan beroperasi memprioritaskan tenaga kerja lokal.
“Negara tidak boleh diam saja. Kalau lapangan kerja sulit, masa depan pemuda suram, risiko masalah sosial pun meningkat. Pemerintah harus hadir, bukan cuma mencatat angka, tapi benar-benar membuka ruang kerja yang layak, adil, dan merata untuk seluruh warga NTB,” tegasnya.
Persatuan Pemuda NTB mendesak adanya program khusus: peningkatan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar, kemudahan modal usaha, serta pengawasan ketat agar rekrutmen tenaga kerja berjalan transparan dan berpihak pada putra daerah.
“Jangan biarkan pemuda kita hanya jadi penonton pembangunan di daerahnya sendiri. Beri kami kesempatan berkarya, karena NTB maju itu dimulai dari pemudanya yang punya pekerjaan pasti dan masa depan cerah,” pungkas Muksin.
