Noviralnojustice.com_KOTA
BIMA – Ketua DPD IMPERIUM NTB, Muhammad Ramadhan, mengecam keras insiden
penganiayaan terhadap wasit yang terjadi dalam pertandingan Turnamen Sepak Bola
Wali Kota Bima Cup 2026 di Lapangan Teratai Mako Brimob Batalyon C Pelopor,
Kota Bima, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya,
peristiwa tersebut bukan lagi sekadar pelanggaran disiplin dalam olahraga,
melainkan telah masuk dalam kategori tindak pidana yang harus diproses secara
hukum. Ia menegaskan bahwa siapapun pelaku yang terlibat dalam aksi kekerasan
terhadap wasit wajib segera diamankan dan diproses sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
"Ini
bukan lagi persoalan pertandingan sepak bola. Ketika seorang wasit diserang dan
menjadi korban penganiayaan saat menjalankan tugasnya, maka yang terjadi adalah
tindak pidana. Pelaku harus segera ditangkap dan diproses hukum tanpa kompromi,"
tegas Ramadhan.
Ramadhan
menilai insiden tersebut menjadi tamparan serius bagi penyelenggaraan turnamen
yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu ajang sepak bola paling
bergengsi di Kota Bima. Terlebih lagi, peristiwa itu terjadi di kawasan Mako
Brimob yang semestinya menjadi simbol keamanan dan ketertiban.
"Kejadian
ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem pengamanan pertandingan.
Bagaimana mungkin seorang wasit bisa menjadi korban penganiayaan di tengah
pertandingan yang seharusnya mendapatkan pengawasan dan pengamanan maksimal.
Ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi seluruh pihak yang
terlibat," ujarnya.
Atas dasar itu, IMPERIUM NTB mendesak Kapolres Bima Kota AKBP Mubiarto Banu Kristanto, S.I.K., M.M..untuk memastikan proses hukum berjalan secara transparan serta mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Selain
penegakan hukum, IMPERIUM NTB juga meminta Wali Kota Bima bersama ketua panitia
pelaksana untuk menghentikan sementara
seluruh rangkaian Turnamen Wali Kota Bima Cup 2026 hingga terdapat kepastian
hukum terhadap pelaku serta adanya jaminan keamanan yang memadai bagi wasit,
pemain, official, maupun seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi.
Menurut
Ramadhan, penghentian sementara turnamen merupakan langkah yang diperlukan
untuk menjaga kondusivitas, mencegah munculnya konflik lanjutan, serta
memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk bekerja secara maksimal dalam
menuntaskan kasus tersebut.
"Jangan
sampai turnamen yang seharusnya menjadi ajang sportivitas, persaudaraan, dan
hiburan masyarakat justru tercoreng oleh tindakan anarkis yang mencederai
nilai-nilai olahraga. Sebelum ada kepastian hukum dan jaminan keamanan,
turnamen ini sebaiknya dihentikan sementara demi menjaga ketertiban dan marwah
kompetisi," pungkasnya.
IMPERIUM
NTB menegaskan akan terus mengawal proses penanganan kasus tersebut hingga
pelaku mendapatkan sanksi hukum yang setimpal dan seluruh pihak terkait
melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan pertandingan agar
kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
