Terjemahan filosofis dari semangat Kapolsek TPTM.
SIARAN PERS No Viral No Justice: FENOMENA FESTIVAL SILAT SEBAGAI MEDIA PERADABAN
Dengan mengusung tema “MEMBANGKITKAN BATANG TEONDAM”, Polsek Tanah Putih Tanjung Melawan, Polres Rokan Hilir, Jajaran Polda Riau, telah berhasil mengubah halaman markas kepolisian menjadi sebuah “Panggung Budaya” yang menghidupkan kembali denyut nadi masyarakat Melayu. Acara yang digelar pada Jumat malam tanggal 3 Juli 2026 dalam rangkaian Hari Bhayangkara ke 80 ini bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan sebuah ‘medium’ baru yang merekonstruksi cara masyarakat berinteraksi, berpikir, dan bersosialisasi di wilayah Rokan Hilir.
Dalam lanskap media modern yang sering memecah belah, Polsek TPTM menghadirkan sebuah ‘pesan’ revolusioner. Bentuk acara yang menghadirkan pertarungan sportif di tanah lapang, diiringi alunan musik tradisional, dan disaksikan langsung oleh masyarakat dari berbagai lapisan, menjadi lebih penting daripada sekadar konten hiburan. Acara ini menjadi ‘fokus perhatian’ bersama "the focal point" yang mempersatukan massa.
Rangkaian Acara yang Sarat Filosofi:
Malam itu, halaman Polsek bertransformasi menjadi pusat peradaban dengan deretan acara yang mencerminkan simbiosis antara adat dan institusi hukum:
1. Pembukaan Tarian Persembahan & Lagu Kebangsaan: Simbol awal dari 'hubungan baru' antara Polri dan Rakyat yang dibingkai dalam estetika.
2. Sambutan "Dua Dunia": Kapolsek IPTU Kodam F Sidabutar dan Camat TPTM H.M. Zuhri menyampaikan visi yang sama: menjaga marwah melalui adat.
3. Penampilan Spesial Kapolsek & Tuan Guru: Sebuah ‘statement’ visual bahwa pemimpin dan masyarakat adalah satu kesatuan dalam satu irama (unity in diversity).
4. Adu Strategi 31 Pasang Pesilat: Lebih dari sekadar kompetisi, ini adalah ‘dialog fisik’ antar generasi yang meneruskan warisan leluhur.
5. Interaksi Sosial: Pembagian Doorprize dan foto bersama menjadi puncak koneksi emosional, mengubah polisi dari figur otoritatif menjadi ‘saudara tua’ di tengah komunitas.
TUJUAN DI BALIK GELOMBANG BUDAYA (The Hidden Agenda)
Kapolsek TPTM menjelaskan bahwa melalui gelaran ini, pihaknya secara sadar menciptakan ‘magnet sosial’ untuk:
1. Melestarikan identitas: Membentengi generasi muda dari arus globalisasi negatif dengan menanamkan nilai 5 macam isi tepak dan 7 tunjuk ajar Melayu.
2. Membangun Citra Polri Humanis: Menjembatani pendekatan ‘mendinginkan suasana’ melalui pendekatan budaya, sejalan dengan program Kapolda Riau tentang "Melindungi Tuah, Menjaga Marwah" .
3. Mengalihkan Energi Positif: Menjadi wadah untuk menjauhkan pemuda dari kenakalan dan narkoba, menggantinya dengan disiplin pencak silat.
STATUS KAMLUMAS: Kondisi Super Kondusif
Hingga berakhirnya acara sekitar pukul 23.00 WIB), seluruh rangkaian berjalan dalam keadaan Aman dan Terkendali. Tidak ada insiden berarti; antusiasme masyarakat justru menjadi bukti bahwa “Medium ini (Acara) telah berhasil menyampaikan pesan kedamaian.”
Harapan ke Depan:
Polsek TPTM mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk terus menciptakan even-even serupa sebagai wadah membangun peradaban dan ketahanan budaya di era digital.
Melayu Besar, TPTM. Jumat, 3 Juli 2026
Kapolsek Tanah Putih Tanjung Melawan
IPTU KODAM F SIDABUTAR, SH.MH
Tembusan:
1. Bapak Kapolres Rokan Hilir (sebagai laporan filosofis).
2. Bapak Wakapolres Rohil.
3. Para Pejabat Utama (PJU) Polres Rohil.
4. Arsip Budaya Melayu Rokan Hilir.
Kontributor: Redaksi Satu
