Noviral - Nojustice.com//Gorontalo - Seorang mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ichsan Boalemo Kampus 2 Paguyaman Zepriyanto Muda,C.ILJ melontarkan kritik keras terhadap RS Boliyohuto atas dugaan kelalaian fatal dalam penanganan pasien yang berujung pada meninggalnya Nanda Tuliabu.
Baginya, tragedi ini bukan sekadar insiden medis, melainkan bukti nyata bahwa sistem pelayanan kesehatan masih abai terhadap nilai paling mendasar: keselamatan nyawa manusia.
“Ini bukan soal fasilitas yang rusak semata, ini soal mentalitas pelayanan. Bagaimana mungkin dalam kondisi darurat, rumah sakit tidak memiliki kesiapan alternatif? Nyawa manusia tidak boleh dikalahkan oleh alasan teknis,"tegasnya.
Ia menilai bahwa keterlambatan rujukan hingga berjam-jam merupakan bentuk kegagalan total dalam manajemen krisis.
Dalam situasi kegawatdaruratan, setiap detik adalah penentu hidup dan mati. Ketika tindakan cepat tidak diambil, maka itu bukan lagi kelalaian biasa, melainkan bentuk pembiaran sistemik.
Zepri juga menyoroti lemahnya perencanaan dan pengawasan internal rumah sakit. Menurutnya, ketiadaan ambulans yang siap operasional tanpa solusi cadangan menunjukkan bahwa RS Boliyohuto tidak memiliki sistem kontingensi yang layak sebagai fasilitas kesehatan publik.
“Rumah sakit itu bukan tempat mencari alasan, tapi tempat menyelamatkan nyawa manusia. Kalau ambulans rusak, di mana rencana cadangannya? Di mana tanggung jawab moralnya?” lanjutnya dengan nada tegas.
Ia juga mengkritik buruknya komunikasi antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien. Dalam kondisi genting, keluarga justru diposisikan seolah harus mendesak agar tindakan medis dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan tidak berjalan secara profesional dan empatik.
Lebih jauh, ia mendesak pemerintah daerah gorontalo dan dinas kesehatan gorontalo untuk tidak menutup mata terhadap kejadian ini. Ia meminta adanya investigasi independen dan transparan, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan di RS Boliyohuto.
“Kalau kasus seperti ini tidak ditindak tegas, maka jangan salahkan publik jika kehilangan kepercayaan rumah sakit. Hari ini mungkin Nanda, besok bisa siapa saja,”ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pembenahan total sistem kesehatan daerah. Baginya, tidak boleh ada lagi nyawa yang melayang hanya karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah.*Jef*




.jpg)
.jpg)
.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
-picsay.jpg)
